Cuaca pada saat itu pun msih sangat
sejuk dipagi hari dan siangnya tidak terlalu panas. Mungkin masih banyak
pepohonan pada saat itu. Ketika mulai SD pun aku dan kawan-kawan masih sering
main dibukit tersebut untuk memetik buah yang kami namakan buah jagoan neon.
Entah kenapa kami menamakan pohon tersebut jagoan neon, mungkin karena buahnya
kalo dimakan lidah kita berubah menjadi warna merah. Entah sebenarnya buah itu
bisa dimakan atau tidak, beruntungnya setelah makan buah tersebut kami tidak
keracunan. Hhehe.
Dulu ketika sewaktu kalas 3 SD juga
sering main di sawah didekat rumah nenek, setiap pulang sekolah kami lewat
sawah untuk memotong jalan, terkadang mampir di sebuah gubuk ditengah sawah
beramai-ramai, berhubung salah satu teman orang tuanya mempunyai lahan di sawah
tersebut dan selalu ada disana ketika kami pulang sekolah kami pun mampir
disana untuk sekedar memetik buah jambu biji, terkadang kalau libur kami
janjian untuk sekedar main disawah memetik singkong dan membakarnya. Bermain
ayunan dibawah pohon nangka,bermain karet membantu menanam tumbuhan disawah
tersebut dan banyak hal, permainan yang aku dan teman-temanku lakukan disana.
Meskipun hal tersebut mungkin dianggap kampung di zaman sekarang ini tetapi
menurutku hal tersebut sangat menyenangkan. Tidak hanya menyenangkan mungkin,
tetapi bisa merasakan petualangan langsung main dengan teman teman ketimbang
sekarang bermain game di gadget atau PS atau computer yang permainannya
hanya sendirian satu arah yang komunikasi terhadap teman jadi tidak ada.
Namun sedihnya sekarang bukit tempat
dulu kami bermain sudah mejadi perumahan tidak ada lagi pohon kecapi yang
sekarang sulit sekali ditemukan didaerah perkotaan, apalagi pohon karet. Pohon
jagoan neonnya pun sudah tidak ada. Sawahnya pun sekarang sudah menjadi tempat
pull taksi. dan masih banyak lagi lahan hijau yang luas yang dinagun bangunan
mewah. Sangat disayangkan tanah luas yang seharusnya menjadi lahan untuk
tanaman-tanaman hijau yang sejuk untuk dilihat, kini menjadi tempat yang banyak
dibangun perumahan. Semoga tidak banyak lagi lahan hijau yang dibangun
perumahan atau bangunan –bangunan lain yang menyebabkan lahan serap air
berkurang yang menyebabkan banjir. Semoga kita semua sadar akan pentingnya
ruang terbuka hijau.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar