Cerpen ini aku
buat ketika aku duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama,tugas mata pelajaran Bahasa Indonesia. Semoga bisa membantu
kalian tuk membuat cerpen.
Pagi hari yang cerah, saat
tahun ajaran baru dimulai. Kelas baru, suasana baru dan tidak ketinggalan teman
baru. Saat aku sedang termenung tiba-tiba seorang perempuan mendekat dan
berkata “hai boleh kenalan ngga,? Nama kamu siapa?”. “Umm , boleh kok. Namaku
Sheny, nama kamu siapa?. Sepertinya aku tidak pernah melihatmu, kamu anak baru
ya?” Tanya ku. “Namaku Sherly, iya aku baru disini. Aku pindahan dari luar
Jakarta”. Jawab Sherly. Kami pun asik berbincang mengenai sekolah Sherly yang
dulu.
Aku dan Sherly pun semakin
akrab. Kami semakin lebih mengenal satu sama lain. Harus ku akui Sherly adalah
teman yang menyenakan, enak diajak berteman, pintar dan pintar, terutama dalam
olah raga.
Suatu ketika diminggu pagi
aku dan Sherly bertemu untuk mengerjakan
tugas IPA. Kami memutuskan untuk mengerjakannya dirumah Sherly. Sesampainya
dirumah Sherly, dia lansung meninggalkan ku kedalam rumahnya. Tiba-tiba Sherly
kluar “ Shen ini minuman dan makanannya, jangan malu-malu ya,” ucap Sherly. “
Iya Sherly terima kasih, duh jadi merepotkan” jawabku.
Kamipun mulai sibuk
mengerjakan tugas IPA tersebut. Tidak terasa waktu berlalu dan tugas kami telah
selesai dikerjakan. Sherly “ akhirnya selesai juga ya Shen”. “iya Sher akhirnya
kita bisa santai”. “hm iya ya, bagaimana kalau kita bermain bulu tangkis
sebelum kamu pulang kerumah?” ujar Sherly.
Sebenarnya saya sedang tidak ingin bermain bulu tangkis, tapi apa boleh
buat aku tidak ingin membuatnya sedikit kecewa jika aku menolak ajakkannya.
“ayo Shen kita main dilapangan bulu tankis dekat rumahku” ajak Sherly.
“baiklah”.
Akupun mulai menikmati
permainan tersebut, saking asyiknya kami bermain kamipun sampai lupa waktu.
Tidak terasa waktu telah menunjukan pukul 3 siang. Aku pun berniat untuk
berpamitan “ Sher sudah jam 3. Aku pulang ya, takut orang tuaku marah jika aku
pulang terlalu sore”. Sherly berkata “ oh ya boleh, kapan-kapan kita bermain
bulu tangkis lagi ya Shen.” “ baiklah, kamu tenang saja, jika kita ada waktu
luang kita bermain lagi”. Ucapku sambil berpamitan.
Hari-hari kami lewati
besama-sama disekolah. Aku pun mulai nyaman bertemen dengan Sherly. Namun suatu
ketika kenyamanan ku berteman dengannya berubabah menjadi perasaan yang sedikit
menggangu hati dan fikiranku. Semakin lama aku mengenalnya ternyata Sherly
tergolong anak yang egois dan pemarah. Ketik guruku sedang menerangkan
pelajaran, Sherly tidak mengerti dan memahami apa yang telah ibu guru jelaskan
di depan kelas. Lalu Sherly bertanya kepadaku “ Sheny, kamu mengerti tidak yang
tadi ibu guru jelaskan?” . “ aku juga kurang mengerti. Kenapa kamu tidak
langsung tanyakan kepada ibu guru saja”. Jawaku. Sherly pun hanya terdiam dam
tiba-tiba dia memerahiku dengan kata-kata yang pedas, dan aku pun tersinggung
dibuatnya. Padahal aku pun juga tidak tahu.
Bel istirahat sekolah
berbunyi dan semua anak dikelas pergi keluar kelas. Dikelas hanya tinggal aku
dan Sherly. Dengan keberanian aku bicara berterus terang kepadanya “ Sherly aku
memang tidak mengerti , tapi kamu tidak perlu mengatkan kata-kata yang pedas
seperti itu, dan aku tidak suka perkataanmu yang sering menyinggung perasaan
orang lain. Jika kamu seperti ini terus kamu akan dijauhi oleh teman-teman”.
Namun Sherly terlihat semakin kesal dan marah kepadaku, dan dia langsung pergi
meninggalkan ku keluar kelas.
Keesokan harinya Sherly
tidak masuk sekolah. Entah mengapa aku senang tidak tidak masuk sekolah. Namun
ternyata itu tidak hanya sehari, Sherly tidak kelihatan selama dua minggu. Aku
merasa khawati dan rindu kepadanya. Walaupun hubungan pertemanan kami sedang
tidak baik, tapi aku selalu mendokan yang terbaik untuk dia.
Keesokan harinya aku
mendengar kabar kalau sherly telah pindah sekolah. Ketika aku pulang kerumah.
Mamaku memberikan suran dan sebuah kado. “Ini dari siapa ma?” Tanyaku dengan
bingung. “ Tadi Sherly datang kemari dan menitipkan ini untuk mu. Katanya
Sherly akan pinddah sekolah lagi ”. Jawab mama. “terima kasih ma”.
“sama-sama. Kamu shalat dulu abis itu makan ya”. “Baik ma”
Setelah selesai makan aku
pun pergi kekeamar untuk membuka surat yang ditulis oleh Sherly. Sherly menulis
dalam suratnya bahwa iya meminta maaf atas perbuatannya itu, dan dia akan
belajar untuk merubah sifat egoisnya itu. Ak bersyukur bahwa Sherly bisa
menyadari bahwa sifat egoisnya itu tidah baik untuk dirinya sendiri ataupun
orang lain. Aku sedikit sedih karena harus kehilangan teman sebangku ku. Aku
pun berharap akan bertemu dengannya lagi suatu saat nanti.
v Unsur Intrinsik
Ø
Tema : Pertemanan.
Ø
Penokohan : - Aku (Sheny) :
Baik, ramah, dan mudah diajak berteman.
- Sherly : Cantik, pintar dan sedikit egois
- Mama Sheny : menyampaikan amanat dengan
baik,
Ø
Alur : Mundur, sebab menceritakan
kejadian masa lalu.
Ø
Latar : - Dikelas (. Dikelas hanya
tinggal aku dan Sherly. Dengan keberanian aku bicara berterus terang
kepadanya aku tidak suka perkataanmu yang sering menyinggung
perasaan orang lain.)
- Di rumah Sherly (Kami memutuskan untuk
mengerjakannya dirumah Sherly. Sesampainya dirumah Sherly,
- Lapangan bulu tangkis (Sebenarnya
saya sedang tidak ingin bermain bulu tangkis, tapi apa boleh buat aku tidak
ingin membuatnya sedikit kecewa jika aku menolak ajakkannya. “ayo Shen kita
main dilapangan bulu tankis dekat rumahku” ajak Sherly. “baiklah”.
- Rumah (Ketika aku pulang kerumah. Mamaku memberikan surat dan sebuah
kado.)
- Dikamar (Setelah selesai makan aku pun pergi kekeamar untuk membuka surat
yang ditulis oleh Sherly)
Ø Sudut pandang : Orang pertama pelaku utama.
Ø Gaya bahasa : Bahasa sehari-hari.
Ø Konflik : ketika guru sedang menjelaskan
dan kami tidak mengerti.
Ø Amanat : janganlah terlalu egois dan
pemarah, karena akan menyakiti perasaan orang lain.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar